Antara Logika, Karya dan Cinta (Kisah Eni Martini)

 Perempuan menggunakan 99% perasaannya sementara 1% nya adalah akal

Pernah mendengar istilah seperti itu? Perempuan dinilai lebih banyak menggunakan perasaan dibanding akal dan logika.  Lalu kemudian dalam satu penelitian diperoleh bahwa perempuan memiliki rasa empati yang lebih besar dibandingkan oleh laki-laki. Mungkin ini disebabkan oleh hormon esterogen yang dimiliki oleh perempuan sehingga perempuan memiliki perasaan yang lembut, sensitif dan cenderung “cengeng”. Sepertinya hal itu tidak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya banyak perempuan-perempuan yang juga harus bisa menggunakan akal bahkan sejajar dengan kaum laki-laki demi untuk kehidupan.

Eni Martini

Salah satunya adalah Eni Martini seorang ibu, penulis dan juga blogger yang saya kenal baru beberapa bulan belakangan ini. Mba Eni, panggilan saya untuk beliau merupakan ibu dari 4 orang anak, yaitu: Lintang, Pijar, Alm Gibran dan Pendar. Tetapi Tuhan berkata lain, salah satu anak dari Mba Eni sudah lebih dahulu kembali pada Nya. Dia adalah Alm Gibran yang meninggal karena paru-parunya yang belum sempurna karena  kelahiran prematur. Ibu mana yang tidak sedih jika harus kehilangan buah hatinya.

Eni Martini
Mba Eni bersama anak-anak

Rasa kecewa pada diri sendiri, dan merasa gagal itu sudah pasti. Tapi kemudian beliau menyadari bahwa bersedih yang terlalu bukanlah jalan keluar. Menyadari masih ada 2 orang anak yang saat itu juga masih membutuhkan perhatian, maka Mba Eni bangkit dan keluar dari kesedihannya. Mudah….? Jelas tidak, tapi perempuan yang juga seorang ibu itu harus mengesampingkan kesedihannya untuk hidup kembali, dan merawat titipan Tuhan yang lain yang lebih dulu dititipkan kepadanya. Butuh 1 tahun bagi seorang Eni Martini untuk dapat iklas dan mengobati hati dengan berkarya. Dalam hal ini dukungan keluarga tentu saja menjadi faktor penting. Ketegarannya ini yang kemudian membuat anggota keluarga menilai Mba Eni sebagai ibu yang mandiri, berani, kuat dan cerdas.

Perempuan Indonesia itu harus mandiri, berani, berkarya namun tetap tidak melupakan perannya sebagai seorang ibu. Itulah yang kemudian memotivasi Mba Eni untuk bisa menghasilkan karya dari hobi nya menulis. Hobi menulis Mba Eni sudah terlihat sejak bangku sekolah dasar. Berkali-kali mengirimkan karya tulis nya ke majalah, namun belum ada satupun yang diterbitkan. Kala itu dia tulis karyanya dengan tulisan tangan dan dikirimkan melalui pos.

Itulah proses, kegagalan bukan halangan, bahwa sesuatu itu harus dijalani dari nol selangkah demi selangkah. Menulis adalah bentuk aktualisasi diri dari seorang Eni Martini. Melalui tulisan beliau merasa bisa menjadi tokoh apa saja yang diinginkan. Penulis adalah tuan bagi tokoh-tokoh dalam cerita karyanya yang dijadikan sebagai medianya untuk berbagi kepada semua orang. Hingga pada tahun 2003 novel pertamanya kemudian diterbitkan dan dinikmati oleh pembaca. Dan kini, bukan hanya 1, 2 atau 3 buku yang sudah diterbitkannya tetapi 20 buku sudah berhasil diterbitkan. Bahkan salah satu novelnya sudah diterbitkan salah satu production house yaitu yang berjudul Toilet 105 pada tahun 2010 yang lalu. Wooow……jika novel sudah di film nya rasanya itu suatu prestasi yang luar biasa bukan? Oh iya, novel karangan Mba Eni ini ternyata beberapa bergenre horor loh….perempuan menulis cerita tentang cinta itu biasa, tapi horor??? Tidak terbayang bagaimana proses penulisannya…..bergidik saya membayangkannya.

Eni Martini
Sebagian hasil karya Eni Martini

Menulis dan buku sudah menjadi makanannya sehari-hari. Selain berkarya melalui tulisannya, mba Eni juga memiliki usaha online shop dimana buku adalah barang yang diperjual belikan disitu. Kalau kamu ingin melihat etalase online jualannya Mba Eni, bisa mampir ke www.bliblibuku.com. Semua pekerjaan dilakukan dengan tidak jauh dari passionnya. Mungkin ini juga yang menyebabkan beliau selalu fokus dan komitment. Perlu ditiru nih….mungkin ini yang dimaksud your passion is your career. Tapi jangan dikira Mba Eni tidak punya hobi lain loh….beliau juga suka travelling, bersepeda, dan minum teh. Kegiatan minum teh ini pasti selalu sambil melamun mencari inspirasi untuk bisa diurai dalam novel.

Perjalanan menulis kemudian mempertemukannya dengan dunia blogger. 2010 Mba Eni memutuskan untuk membuat blog yang membahas tentang kehidupannya sehari-hari (lifestyle) khususnya tentang parenthink. Tema ini dipilihnya karena memang beliau suka sekali anak-anak bahkan sejak beliau belum menikah. Melalui blog, Mba Eni tidak menceritakan tokoh-tokoh fiksi, tetapi lebih kepada menceritakan atau sharing tentang seminar-seminar yang sering dia hadiri atau resep masakan masih seputar kehidupannya sebagai seorang ibu.

Harapan Mba Eni adalah agar bisa dilihat menjadi sosok ibu yang penuh cinta dan pemberani. Saya rasa  impian itu pasti dimiliki oleh setiap ibu, karena saya pun berharap seperti itu. Tapi menurut saya, ketika perjumpaan saya pertama kali dengan Mba Eni, beliau memang memiliki pribadi yang hangat, mudah bergaul dan murah senyum. Sehingga membuat nyaman orang-orang disekitarnya.

Tetaplah menyebarkan cinta dan kehangatan untuk orang-orang disekitarmu Mba. Kamu mau kenal dengan Mba Eni, bisa colek-colek beliau melalui media sosialnya.

Facebook | Twitter | Instagram



signature-desy

You may also like

11 Comments

  1. wahhh tangguh,,..ditambah mampu menghasulkan karya yang bermanfaat… salam kenal mba eni.. salam kenal juga mba desy, semoga kita bisa berjumpa.

  2. wanita tangguh yaa
    salut dengan perjuangannya

    dan yg paling nyentuh bngt yang ini ni “Tetaplah menyebarkan cinta dan kehangatan untuk orang-orang disekitarmu” 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *