Belajar dari Habibie & Ainun

Siapa yang tidak tahu Habibie & Ainun. Apalagi sekarang sedang diputar film nya yang merupakan refleksi dari buku yang berjudul yang sama dengan film tersebut. Menurut Metro TV hari ini film tersebut bahkan mengalahkan rekor yang dicatat oleh Ayat-Ayat Cinta dan  Laskar Pelangi. 15 hari sudah Film tersebut diputar di bioskop dan sudah mencapai 2.1 juta penonton.
Saya sendiri belum sempat baca bukunya. Film nya…? Alhamdulillah sudah ditonton. Walaupun saya tidak menangis tersedu seperti Mba-Mba sebelah saya, namun setiap momen di film tersebut dapat membuat saya membayangkan Bapak Habibie & Ibu Ainun. Terlepas dari kekurangan pada film tersebut dari segi interior pada saat di Rumah Sakit dan beberapa spot yang sangat kentara bahwa itu iklan, namun sungguh hal tersebut sangat kecil dan tertutup dengan kalimat-kalimat romantis dan mengena dihati. Yang ternyata dialog-dialog tersebut di supervisi langsung oleh Bapak Habibie sendiri. Sehingga menurut saya seluruh kalimat dalam film itu garis besar “berisi” sekali.
Film ini sendiri bagi saya, tidak hanya menggambarkan cinta Habibie kepada Ainun, tetapi juga kepada negeri ini. Betapa banyak cita-cita yang sebenarnya tulus ingin negeri ini bisa mandiri, maju dan tidak tergantung dengan bangsa yang lain. Impiannya agar bangsa ini bisa dihormati oleh bangsa lain, agar infrastruktur negeri ini merata dan banyak lagi. Dari Ainun sendiri saya belajar bagaiman iklas menjadi istri, partner kerja dan penasehat bagi suami. Berkorban waktu, jiwa dan raga untuk keluarga, yang mungkin belum bisa saya penuhi saat ini bagi keluarga saya sendiri.
Terus terang banyak moment dari film ini yang sungguh menjadi suatu “tamparan” bagi saya. Khususnya ketika mengena pada peran seorang istri. Yang memang saat ini sedang “galau” akan masalah tersebut. Bagaiman Ainun iklas pindah ke Jerman dan melupakan karier nya sebagai dokter, dan kembali ke Indonesia walaupun dia juga sudah menjadi dokter anak disana. Bagaiman Ainun bisa dapat mengurus suaminya sampai dengan detail sekali. Mengabdikan dirinya untuk keluarga. Sungguh sulit sekali mencapai tahap itu.
Back to Habibie & Ainun, film ini membuat saya “iri” akan cinta kasih yang mereka miliki. Walaupun ini hanya sebatas film tapi paling tidak dikehidupan nyata mereka pun berhasil melewati kerikil-kerikil sehingga Allah swt yang akhirnya memisahkan mereka. Semoga Saya dan Yankuw pun begitu. Habibie mengajarkan saya untuk menjadi pasangan yang iklas menemani pasangan kita disaat suka dan duka, sehat dan sakit. Semoga saya dan yankuw pun begitu….namun demikian saya tetap berdoa semoga kami berdua selalu diberikan kesehatan.
Pokoknya banyak sekali hal yang saya pelajari dari kisah mereka dalam film tersebut. Mungkin membaca bukunya juga akan lebih dalam lagi ya….?. Dan saya setuju dengan pendapat bahwa Pak Habibie memang tidak cocok di Politik, karena memang jiwa nya terlalu baik untuk dinodai dengan kotornya dunia politik. Dan benar lah posisi nya yang sekarang, semoga beliau tetap dapat melanjutkan hidupnya dan semakin kuat dengan adanya animo positif akan kisah cintanya dengan Ibu Ainun.

β€œMasa lalu saya adalah milik saya. Masa lalu kamu adalah milik kamu. Tapi masa depan adalah milik kita.”

β€” Habibie dan Ainun
-Quotes diatas diambil dari sini
  



signature-desy

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *