Telisik Jalur Naga Bersama Jakarta Corners

Tahun baru Imlek….perayaan itu baru akrab di telinga saya baru beberapa tahun belakangan ini. Bahkan ketika saya kecil rasanya tidak pernah punya ingatan nonton barongsai, atau sekedar mendapatkan dodol keranjang saja saya tidak tahu. Hal ini disebabkan karena pelarangan oleh pemerintah order baru pada saat itu. Pemerintah Orde Baru melarang etnis Tionghoa merayakan hal-hal yang berhubungan dengan keyakinannya. Alasan yang pernah saya baca adalah agar mempermudah proses asimilasi.

Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok.-wikipedia

Sampai kemudian di era kepemimpinan Gus Dur dikeluarkan kebijakan baru bahwa etnis Tionghoa boleh merayakan hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan mereka bahkan perayaan Hari Raya Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional. Hal itu kemudian berlangsung sampai dengan sekarang. Mungkin itulah sebabnya saya baru mendengar gaung perayaan Imlek 15 tahun terakhir ini. Kini lambat laun etnis Tionghoa mulai percaya diri menunjukkan aktifitas kebudayaan mereka, yang menurut saya cukup unik dan luar biasa meriah. Tentu saja hal seperti ini menjadi wisata budaya yang tidak boleh untuk dilewatkan.
Kalau biasanya saat perayaan Imlek hanya saya habiskan dengan melanglang buana dari mall ke mall menikmati diskonan atau sekedar bersantai ria dirumah karena menikmati harpitnas atau long weekend, namun tidak demikian di tahun ini. Tahun ini saya ikut bergabung dalam acara Jakarta Corners yang akan menyambangi klenteng-klenteng yang ada di Bogor dan melihat persiapan yang mereka lakukan. Kaya apa ya?? Melihat tema acaranya saja sudah membuat saya antusias. Kalau bukan karena rombongan rasanya tidak mungkin saya bisa masuk klenteng deh?
Istilah klenteng berasal dari bunyi klenting-klenting yang berasal dari genta-genta kecil yang dibunyikan didalam Vihara.
Bogor yang cerah ceria
Sabtu, 6 Februari 2016
 
Bogor pagi itu tampak cerah berawan. Bersahabat dengan saya yang akan jalan-jalan menyusuri sudut Bogor yang sama sekali belum pernah saya lakukan. Bukannya saya belum pernah kebogor, jalan Surya Kencana juga bukan kali pertama saya lalui. Tapi jujur ratusan kali melewati jalan ini belum pernah saya turun dan mampir menyusuri dengan berjalan kaki. Inilah indahnya berkumpul dengan teman-teman yang suka travelling bahkan jalan kaki dan mendapati sudut foto yang instagramable saja sungguh luar biasa.
Setelah peserta sudah berkumpul di depan stasiun Bogor maka selanjutnya kami menumpang angkot 02 menuju ke tujuan yang pertama yaitu Klenteng Dhanagun atau Vihara Dhanagun. Vihara Dhanagun terletak di Jl. Surya Kencana  No. 10 Kelurahan Babakan Pasar. Vihara yang dibangun pada tahun 1746 ini memiliki nama lain yaitu Hok Tek Bio. Hok artinya rejeki, Tek artinya kebajikan dan Hok Tek Bio berarti rumah ibadah, rejeki dan kebajikan. Vihara Dhanagun merupakan Vihara pertama yang ada di kota Bogor sehingga merupakan salah satu cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya.
Gerbang Vihara Dhanagun
Vihara Dhanagun pagi itu sudah mulai bersiap-siap menyambut umat yang akan beribadah. Tenda sudah dipasang, siap menyambut umat yang akan beribadah pada malam harinya.  Jujur saja, pagi itu saya sedikit takut memasuki area klenteng, kenapa? Saya takut hijab saya mengganggu ibadah mereka. Tapi ternyata…..ketakutan saya sungguh tidak terbukti. Pengurus Vihara menyambut baik kehadiran kami. Mungkin ini karena Tim Jakarta Corners sudah ijin sebelumnya. Kalau tidak ijin rasanya mungkin tidak akan diterima seterbuka ini. Bapak Ayung adalah pengurus Vihara yang pagi itu menjawab pertanyaan kami yang memang kurang paham tentang agama Budha dan khususnya tradisi imlek itu sendiri. Bahkan bersedia menjawab berapa harga lilin besar-besar yang ada disekeliling vihara tersebut.

Bau hio semakin merebak karena ada beberapa umat yang sudah mulai beribadah pagi itu. Mereka membawa hidangan yang akan disajikan kepada para dewa. Oh iya setiap vihara ternyata memiliki dewa utama yang berbeda. Di Vihara ini yang menjadi dewa utama adalah Dewa Bumi, sementara 2 dewa yang lainnya saya tidak ingat karena ejaan china yang menurut saya sulit untuk diingat. Dan karena aroma hio yang sudah cukup memenuhi ruangan vihara, saya pun memilih menunggu diluar saja sambil melihat dari jauh cara peribadatan umat budha.

Intinya begitu masuk, mereka akan beribadah membelakangi pintu masuk ruangan utama untuk berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan YME. Baru kemudian mereka akan masuk kedalam untuk mendoakan para dewa-dewa. Altar pun ada 2 macam, altar polos dan altar yang penuh dengan hidangan persembahan. Altar polos digunakan untuk sembahyang kepada Tuhan YME sedangkan altar yang penuh dengan hidangan persembahan untuk sembahyang kepada para dewa. Setidaknya itu yang saya tangkap dari penjelasan Bapak Ayung pagi itu.

Sudah hampir 1 jam kami di Vihara itu dan bersiap untuk menuju ketempat berikutnya dengan berjalan kaki. Iya…..beneran jalan kaki masuk pasar dan menyusuri jalan yang belum pernah saya lalui selama bertahun-tahun main di Bogor. Sungguh pengalaman pertama saya masuk ke Vihara di Indonesia dan tahu bagaimana cara umat budha beribadah. Postingan ini akan berlanjut ke postingan berikutnya ya……

Selengkapnya tentang sudut di Vihara Dhanagun bisa dilihat video dibawah ini:

Tulisan ini dikutsertakan dalam Telisik Imlek Blog Competition JakartaCorners yang di sponsori oleh Batiqa Hotels



signature-desy

You may also like

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *