Tips Agar Menjadi Ibu Bijak yang Produktif

Ibu Bijak, Visa, Financial Planner, Prita Ghozie, Womenpreneur, Ibu Produktif, Ibu Rumah Tangga

Menjadi ibu rumah tangga merupakan kodrat semua perempuan. Tapi kini kita bisa memilih, ingin menjadi ibu rumah tangga biasa saja atau menjadi ibu rumah tangga yang produktif. Tapi tidak hanya cukup menjadi ibu rumah tangga, tapi juga harus menjadi ibu bijak.

Menurut KBBI, bijak artinya pandai, dan mahir. Jadi seorang ibu rumah tangga yang bijak adalah ibu rumah tangga yang pandai mengelola keuangan, kebutuhan dan yang lainnya. Jadi Ibu bijak yang produktif apa sih? Menurut saya ibu bijak yang produktif adalah ibu rumah tangga yang tidak hanya bijak mengatur kebutuhan atau tugas rumah tangga tapi juga bijak mengatur keuangan rumah tangga syukur-syukur bisa sekaligus memiliki penghasilan sendiri baik dari berwirausaha maupun bekerja.
Peranan seorang ibu juga seringkali memiliki peran sebagai menteri keuangan dirumah. Uang yang datangnya dari nafkah suami harus bisa diatur sedemikian rupa untuk bisa mencukup kebutuhan seluruh anggota keluarga. Apalagi mengatur penghasilannya sendiri, pasti harus bisa bijak.

Sayangnya sekarang ini literasi keuangan seorang ibu dalam mengatur keuangan rumah tangga masih sangat minim. Bahkan menurut informasi hanya 25% saja perempuan khususnya ibu yang paham tentang literasi keuangan. Jadi jangan heran kalau seringkali pengeluaran rumah tangga masih lebih besar pasak daripada tiang, bahkan ini belum termasuk tabungan pendidikan dan investasi. Anyway ini sekaligus introspeksi diri saya sendiri yang sampai sekarang masih belum mahir mengatur keuangan rumah tangga:

10 September 2018 yang lalu Ibu Berbagi Bijak mengajak Ibu-Ibu PKK Kelurahan Pekayon untuk mendapatkan ilmu tentang bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Harapannya tentu saja agar bisa lebih bijak lagi dalam mengelola penghasilan dari suami. Supaya penghasilan yang didapat tidak menguap begitu saja apalagi tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok. Dan alangkah lebih baiknya lagi ibu rumah tangga bisa ikut aktif dalam merencanakan keuangan rumah tangga. Jika banyak ibu yang paham bagaimana mengelola keuangan, insyaallah nanti bisa diturunkan kepada anak-anaknya sehingga akan semakin banyak yang paham akan literasi keuangan.

Ibu Bijak yang Produktif

Tips menjadi ibu bijak itu sebenarnya gampang-gampang susah. Tapi perlu disiplin tingkat tinggi supaya ini bisa terwujud. Apa saja sih yang harus kita lakukan sebagai ibu bijak yang produktif, yaitu dengan mengatur cash flow bulanan agar mencapai keuangan yang ideal.

Ibu Bijak, Visa, Financial Planner, Prita Ghozie, Womenpreneur, Ibu Produktif, Ibu Rumah Tangga

Mba Prita Ghozie menyampaikan bahwa untuk mengatur cash flow, ada beberapa tips untuk menjadi ibu bijak yang juga produktif, yaitu:

  1. Financial Check up

Kita perlu memeriksa kembali apakah pengeluaran kita sudah ideal atau belum. Bagaimana caranya? Dengan menjabarkan kembali kemana saja uang kita mengalir. Mulai dari hutang, pengeluaran bulanan, dana darurat, zakat, biaya hidup.

Sehat ngga sih keuangan kita? Jika kita punya utang maka pinjaman itu harus yang produktif, dan cicilan pun harus ditekan dibawah 30%. Biaya hidup maksimal 50% dari penghasilan kita. Harus punya dana darurat berupa kas dengan minimal pengeluaran 3 kali secara rutin dan pastikan kita punya tabungan berupa investasi untuk masa depan.

Ibu Bijak, Visa, Financial Planner, Prita Ghozie, Womenpreneur, Ibu Produktif, Ibu Rumah Tangga

Dengan melakukan financial check up seperti ini harapannya kita jadi tahu bagaimana kondisi keuangan kita. Dan jadi tahu bisa memperbaiki dibagian yang mana

  1. Mengelola arus cash

Berapapun penghasilan kita, penting sekali untuk bisa mengelolanya. Mencatat semua pengeluaran, baik untuk kebutuhan dunia dan akhirat. Iya serius, Mba Prita Ghozie mengingatkan kita untuk memperhitungkan juga zakat dan sedekah. Jangan sampai penghasilan kita hanya habis untuk urusan dunia saja.

Alokasi ideal untuk penghasilan bulanan adalah seperti dibawah ini:

  • Sosial (zakat, sedekah dan infaq): 5%
  • Dana darurat dan asuransi: 10%
  • Biaya hidup dan cicilan: 60%
  • Investasi: 15%
  • Gaya hidup: 10%

Ada contoh sederhana dari Mba Prita mengenai sedekah, Misalnya kita terbiasa memberikan uang bulanan untuk orang tua, meskipun itu hitungannya sedekah kepada orangtua tapi jika diberikan secara rutin setiap bulan maka post tersebut dimasukkan ke biaya hidup.

Sementara itu yang dimaksud disini adalah investasi untuk jangka panjang. Ada beberapa saran dari Mba Prita bahwa investasi yang aman adalah reksadana yang bisa kita sisihkan dari uang bulanan kita mulai dari nominal 100 ribu rupiah saja. Tentu saja jangka waktu penyimpanan bisa dikembalikan lagi sesuai dengan kebutuhan.

  1. Merencanakan keuangan

Dalam berkeluarga pasti ada aja yang kita mau. Mau punya rumah, mobil, tanah. Mau umroh, renovasi rumah dan masih banyak lagi yang lainnya. Kadang berpikir ngga kalau itu mungkin cuma khayalan. Mau mewujudkan dengan cara berhutang? Duh…jangan dulu deh.

Ibu-ibu harus ingat ya bahwa berapapun penghasilan itu harus mengendalikan pengeluaran. Hutang harus tetap dikendalikan agar berada dibawah 30% dari penghasilan, jangan sampai lebih. Hal ini agar keuangan kita tetap berada dalam kondisi sehat. Jangan sampai kita berhutang untuk liburan tapi kemudian kita justru kesulitan membayar cicilannya dan akhirnya mengganggu kebutuhan bulanan kita.

Cara mewujudkan impian kita dan keluarga itu ada beberapa cara, yaitu:

  1. Bekerja secara aktif
  2. Menjadi investor
  3. Menjadi womenpreneur

Tips mengelola keuangan usaha ala Ibu Bijak

Ada beberapa tantangan yang biasanya kita hadapi jika ingin memulai usaha. Dan semua tantangan itu seharusnya tidak membuat kita jadi diam ditempat. Tantangan yang biasa kita hadapi itu pasti ada solusinya, berikut tips dari Mba Prita mengenai hal ini:

Mau usaha apa. 

Kenali dulu usaha apa yang ingin kita jalankan. Usaha itu bisa dimulai dari hobi atau kesukaan kita. Tentukan siapa customer kita. Penting sekali mengenali siapa yang akan menjadi customer kita, supaya apa yang kita kerjakan memang ada hasilnya. Tentukan jam kerja. Bagi seorang ibu, lebih enak bekerja setelah selesai mengerjakan urusan domestik rumah tangga. Untuk itu pilihlah usaha dengan waktu yang fleksibel.

Tidak tahu untung dan rugi

Poin ini benar-benar mengingatkan saya pada diri sendiri. Membangun usaha tapi ngga dicatat dengan benar sehingga nggak tau kalau usaha saya untung atau rugi. Jika berniat untuk membuka usaha, Mba Prita menyarankan kita memisahkan antara arus kas rumah tangga dan arus kas usaha. Masih bingung bagaimana menghitung untung? Caranya adalah dengan mengurangi omset usaha dikurangi biaya. Jangan lupa ya, kalau untung berarti menjadi kas masuk untuk rumah tangga kita. Eh tapi jangan sembarangan dihabiskan, lakukan postingan sesuai dengan hitungan yang diatas tadi.

Baca juga: #IbuBerbagiBijak

Bagaimana Menjadi Womenpreneur

Dalam menentukan usaha sebaiknya ditentukan dari hobi dan kesukaan kita, seperti yang Aditya Lugina yang akrab dipanggil Mba Gina. Mba Gina menjalankan bisnis Gammara Leather yang fokus pada produk fashion yang terbuat dari kulit sapi, seperti: tas, dompet, id case, dan lain sebagainya.

Produk Gammara saat ini sudah di ekspor ke Perancis, Jepang, Belanda, Arab dan Taiwan sebagai distributornya. Saat ini Gammara sudah diproduksi di Bandung yang menghasilkan 150 buah setiap hari.

Ibu Bijak, Visa, Financial Planner, Prita Ghozie, Womenpreneur, Ibu Produktif, Ibu Rumah Tangga
Aditya Lugina, Founder Gammara Leather

Tiga langkah penting yang harus diperhatikan saat ingin menjadi seorang womenpreneur, adalah:

Goals

Menyusun dan membangun sasaran (goal) dengan perhitungan yang matang. Misalnya: dengan menentukan ide usaha, bahan baku produknya dari mana, perencanaan keuangan, harga jual, sasaran pembeli, promosi dan pemasaran.

Beberapa hal yang harus kita perhatikan saat melakukan perencanaan keuangan (financial management), seperti:

  • Menggaji diri sendiri.
  • Menabung terlebih dahulu, seperti investasi dan pengembangan bisnis.
  • Anggaran belanja, seperti alokasi untuk kebutuhan-kebutuhan wajib.
  • Kelola cash flow dengan bijak.

Afirmasi

Jika sudah terpikirkan ingin usaha apa, mulai kelola sasaran tersebut dengan pikiran-pikiran positif. Yang perlu kita ingat ketika ingin usaha adalah bisa jadi kita belum bisa menggaji diri sendiri dalam jangka waktu 6 bulan, hal itu harus bisa kita sadari sejak dini. Karena bisa jadi kita akan fokus pada pengembangan bisnis terlebih dulu.

Visualisasi

Harus bisa menentukan langkah-langkah apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencapai goals yang sudah kita tentukan agar berhasil.

Langkah-langkah diatas adalah yang sudah dijalani oleh Mba Gina dan alhamdulillah sukses hingga Gammara sampai sekarang ini. Tentu saja yang dilakukan Mba Gina itu tidaklah proses yang cepat tapi butuh proses dan usaha yang konsistent serta disiplin agar bisa mencapai sukses.

Jadi jika sekarang kita punya hobi atau kesukaan yang kira-kira kita bisa sebaiknya mulai dipikirkan untuk memulai usaha deh. Saya pun demikian, alhamdulillah sekarang sudah mulai usaha di bidang fashion anak. Mudah-mudahan bisa disiplin dan konsisten seperti Mba Gina ini.

Ibu Bijak, Visa, Financial Planner, Prita Ghozie, Womenpreneur, Ibu Produktif, Ibu Rumah Tangga

Dan benar sih dalam jangka waktu kurang dari enam bulan sudah pasti kita belum bisa meraup untung. Dari pertemuan dengan Ibu Bijak kali ini pun saya jadi paham bahwa kas usaha dan rumah tangga benar-benar harus dipisahkan. Jangan sampai tercampur, jadinya nggak tau tingkat keberhasilannya sampai mana.

Sampai bertemu lagi di sharing session berikutnya ya. Semoga usaha kamu yang sedang dirintis bisa berhasil ya. Doakan usaha @dyu_label saya juga ya. Oh iya kalau mau tahu tentang tips-tips mengatur keuangan lainnya bisa langsung ke instagramnya Ibu Berbagi Bijak ya, bermanfaat banget loh.



signature-desy

You may also like

34 Comments

  1. Banyak yang bilang menjadi ibu rumah tangga ‘hanya’ pekerjaan di seputaran urusan domestik yang dianggap standar dengan urusan remeh temeh. Padahal menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan full time yang justru menuntut pengetahuan banyak hal yang juga ikut menunjang kelancaran rumah tangga dan kesuksesan keluarga. Ibu rumah tangga tetap harus mengupgrade pengetahuannya.

  2. Hiksss aku nih harus banget belajar literasi keuangan rumah tangga. Biar belanjaan ga lebih besar dprp penghasilan ya.
    Pengen jg deh ada event gini di sini
    Tp alhamdulillah sedikit tercerahkan karena mbak desy share di blog

  3. Bagus banget acaranya kak. Iyaa dulu aku pas masih gadis susah banget nabung setelah menikah baru mulai sadar perlunya nabung apalagi kalau sudah punya anak harus bisa mempersiapkan dana untuk mereka

  4. Yang selalu di ingat tuh kata-kata mbak prita kalau seorang perempuan itu menteri keuangan untuk keluarganya. Aku jadi makin semangat memisahkan uang setelah gajian ke pos-pos nya sendiri. Yang terpenting sih zakat jangan sampai lupa.

  5. Saya ini kadang suka ngetawain diri sendiri soal dana tak terduga. Kan udah siap tuh dana tak terduga (kalau nggak kepake bulan ini, bulan depannya ini dana ditabung, di luar dari tabungan bulanan kan), nah seringnya kebutuhan tak terduga itu betul-betul menguras dana tak terduga 😀 ini mengjengkelkan. Terus pernah juga waktu dana tak terduga kepakai untuk urusan lain, selama bulan berjalan tidak ada kejadian yang membutuhkan dana tak terduga … 😀

  6. Menabung, satu kata real yang sangat fiktif untuk aku wujudkan. Hikks, sebagai lajang milenial koq aku ingin sekali menjadi ibu bijak yang pandai mengatur keuangan. Semoga usaha fashion anaknya makin sukses ya Mba

  7. Alokasi untuk dana darurat ih yang aku belum punya, bahkan ga terpikirkan..duuh parah ya, padahal kan penting ya tuk jaga2 dalam keadaan darurat. Makasih sharingnya ya mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *