Gunung Parang merupakan salah satu tujuan wisata baru di Purwakarta setelah Waduk Jatiluhur dan Air Mancur Sri Baduga. Gunung ini merupakan gunung batu andesit tertinggi di Indonesia dan bahkan merupakan nomor dua di Asia.

Badega Gunung Parang merupakan nama yang diberikan oleh tempat wisata ini sejak 17 Desember 2013 oleh Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi SH. Arti dari nama Badega Gunung Parang adalah penjaga gunung parang. Harapannya bisa menjaga alam dan kelestarian gunung parang serta bisa menaikkan perekonomian warga yang ada di sekitar gunung ini melalui pariwisata. 

Wisata yang ditawarkan di gunung ini adalah petualangan panjat tebing. Dengan ketinggian 930 Mdpl, gunung ini menawarkan petualangan yang bisa memacu adrenalin kita. Konon menurut yang saya baca, Gunung Parang ini merupakan spot panjat tebing tertinggi di Indonesia. 

Gunung Parang via Ferrata

Pendakian yang akan saya ceritakan kali ini adalah pendakian via Ferrata. Jalur pendakian ini akan melalui Kampung Cihuni atau Kampung Cirangkong, Desa Pesanggrahan. Untuk menuju basecamp Badega Gunung Parang kami harus melalui jalan yang tidak terlalu besar. Cukup untuk dua mobil tapi mepet banget. 

Kami diarahkan oleh operator Gunung Parang untuk lewat jalur alternatif, karena jalur yang biasa dilewati terkena longsor. Jalannya belum semuanya bagus, masih ada jalur bebatuan. Beruntung jalur tersebut tidak terlalu ramai, mungkin karena kami lewat sana sekitar jam 5 pagi jadi masih cukup aman. 

Begitu sampai ke wilayah basecamp kita seperti memasuki dimensi yang berbeda. Setelah gapura dan memasuki parkiran langsung amaze dengan kebersihan tempatnya. Ada sebuah warung di bawah yang estetik banget. Keindahan Gunung Parang langsung bisa terlihat dari sana. Seakan memberi salam kepada kami para wisatawan yang datang. Apalagi kami datang saat matahari baru bersinar, langsung menyorot ke Gunung tersebut. 

Naik lagi keatas saya seperti bernostalgia dengan pemandangan sebuah hotel di Lombok. Desain tempatnya simple tapi asik banget, memanjakan mata dan menghilangkan rasa nervous karena akan memanjat tebing. 

Di area ini terdapat mushola, warung dan juga area camping ground serta saung yang bisa di sewa untuk menginap. Area ini juga merupakan tempat untuk bersiap-siap memakai peralatan untuk memanjat tebing. 

Pendakian via Ferrata ini bisa dilakukan oleh semua orang, asalkan dilengkapi dengan peralatan yang aman. Via Ferrata diambil dari bahasa Italia yang artinya jalan besi atau jalur besi. Karena di pendakian ini kita akan mendaki gunung batu andesit melalui pijakan besi yang disusun sepanjang jalur pendakian.  

Untuk itu kita wajib menggunakan perlengkapan seperti helm, carabiner, seat harness yang disediakan oleh pihak pengelola Badega Gunung Parang. Jangan lupa memakai sarung tangan juga demi keamanan kita sendiri. Khawatir besi yang kita pegang nanti panas, apalagi permukaannya pasti kasar dan keras. Demi keamanan sebaiknya pakai sarung tangan.

Perlengkapan lain yang harus dibawa saat mendaki adalah running bag atau tas backpack kecil untuk menyimpan handphone, makanan dan minuman. 

Ada dua jarak pendakian yang bisa kita pilih, yaitu: 300 meter dan 900 meter. Untuk pendakian menggunakan jarak meter bukan Mdpl. Dan kedua jarak tersebut dikenakan biaya yang berbeda. Biaya yang dikenakan oleh pihak pengelola Badega Gunung Parang adalah sebagai berikut: 

  • Jarak 300 meter dikenakan biaya 200 ribu, dengan jarak tempuh 3 jam bolak-balik.
  • Jarak 900 meter dikenakan biaya 400 ribu, dengan jarak tempuh 6 jam bolak-balik.

Waktu tempuh yang disebutkan diatas bisa saja jadi lebih panjang kalau sesi foto-foto kita lebih lama di setiap spotnya. 

Kita juga bisa meminta untuk disediakan makan siang dari pengelola dengan budget 25 ribu per pax, menunya sayur asem, tahu, tempe, ayam, sambal dan lalapan. Jadi pas turun sudah ada hidangan nasi di bawah. Soalnya standar nya di warung hanya tersedia mie instan aja. 

Pengalaman Pertama Kali Mendaki Gunung Andesit Tertinggi

Setelah memakai peralatan lengkap dan safety kita harus memasuki hutan terlebih dahulu untuk menuju ke titik awal pendakian. Berjalan sekitar 10 sampai 15 menit, tapi medannya cukup nanjak sehingga membuat heart rate bisa tiba-tiba naik drastis. Sampai ke dataran yang membuat kita bisa memandang ke arah waduk jatiluhur. 

Pihak pengelola Bandega Gunung Parang akan memberikan briefing terlebih dahulu tentang peralatan yang dikenakan dan bagaimana menggunakannya. Ada beberapa hal yang penting sekali untuk selalu dilakukan: 

  • Sangat ditekankan agar salah satu carabiner harus selalu terkait antara besi sling dan besi pijakan.
  • Jangan mengeluarkan barang-barang karena khawatir terjatuh. 
  • Dokumentasi serahkan pada pihak pengelola, karena mereka akan standby dengan handphone baik dari mereka maupun dari salah satu peserta. 

Jalur pendakian yang tersedia ternyata hanya satu jalur saja. Jadi kita harus antri saat naik maupun turun. Disinilah kita harus belajar sabar meski mungkin kita bisa mendaki lebih cepat. Jalur untuk naik dan turun akan melewati jalur yang berbeda, dan rutenya benar-benar challenging karena kita akan melintasi sisi gunung yang berbeda. Masyaallah…..

Teknik pendakian disini persis seperti menaiki anak tangga. Hanya saja besi pijakan yang disediakan tidak besar. Terbatas banget, apalagi kalau kaki kamu besar. Jadi harus fokus dan hati-hati. 

Tidak sampai disitu, jalur pendakiannya pun cukup beragam. Mulai dari kemiringan 45 sampai 90 derajat. Jalurnya tidak hanya lurus, tapi juga belok bahkan ada jalur yang mengharuskan kita berjalan di sisi dinding gunung. Fokus saja ke anak tangga yang akan kita lalui. 

Hal yang paling benar untuk dilakukan saat sedang mendaki adalah jangan sering-sering melihat kebawah dan kebelakang.

Alhamdulillah diantara banyaknya tangga masih ada dataran yang bisa digunakan untuk beristirahat. Kira-kira ada 2 spot yang bisa kita gunakan untuk berteduh dan beristirahat. Oh iya, jangan lupa bawa minum secukupnya dan snack untuk dimakan diatas. Lumayan untuk menambah tenaga dan mencegah dehidrasi juga. Meskipun kita mendaki di pagi hari, panasnya tetap cetar membahana, Subhanallah. 

Kebetulan kami memilih jalur yang 300 meter saja. Sehingga setelah melintasi jalur dinding  gunung, kami langsung turun ke bawah. Dan ini ngga kalah menantang dibanding naiknya. Hal pertama yang terasa adalah kepala rasanya pegel banget, dengan helm harus selalu menunduk kebawah. 

Setelah menuruni gunung selama hampi 1,5 jam, Alhamdulillah kami sampai ke bawah dengan selamat. Panasnya matahari pagi kadang membuat kita lalai dan hilang fokus. Kadang bisa saja langkah kaki kita mungkin menginjak teman di bawah kita, atau mungkin membuat kaki kita kurang ajeg. Jadi penting banget berkomunikasi antar teman jika mau beristirahat sejenak.  

Unlock Another Journey 

Siapa yang sangka di usia yang ke 40 tahun ini saya justru punya kesempatan dan berani untuk melakukan pendakian di gunung batu andesit tertinggi kedua di Asia. Jika diingat-ingat, Desy diusia remaja atau bahkan di usia 20 tahun ngga mungkin deh memilih kegiatan outdoor bahkan ekstrim kaya gini. Bahkan tahun lalu ketika konten tentang gunung ini seliweran di instagram rasanya saya belum ada kepikiran untuk mencoba. 

Tapi entah kenapa H-4 sebelum berangkatan, waktu Mba Fithri ngajakin untuk ikut perjalanan kesini bersama dengan circle yang baru dalam hitungan jam saya langsung setuju. Padahal awalnya di tanggal yang sama kami ingin ke Sentul. Setelah mengiyakan dan bayar, saya masih ngga percaya kalo sudah mengambil keputusan untuk pergi. 

Jujur yah, rasanya emang takut sih waktu melihat dokumentasinya di instagram official Badega Gunung Parang. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk tidak banyak membicarakan soal perjalanan kesana selain persiapan badan dengan jogging. 

Dan ternyata begitu dijalankan, Alhamdulillah atas ijin Allah Azza wa Jalla bisa dilewati dengan baik. Bisa menikmati sesi memanjat dengan santai bahkan sesekali saya duduk di besi untuk sekedar menikmati pemandangan di belakang saya, Masya Allah indah banget. Bisa duduk di besi biasanya kalau harus menunggu antrian di depan saya. Daripada berdiri saja mending duduk kan. 

Overall rasa lelahnya masih bisa ditolerir. Masih lebih cape melintas di rute Gunung Salak via Cidahu sih. Tapi adrenalin rush nya ga kalah sih, sama-sama menantang dengan medannya masing-masing. Next mau cobain manjat ke 900 meter deh, kalo ada temen hehehe. 

signature-desy