Pengalaman Sholat di Masjid Nabawi Bersama Anak-anak

Masjid Nabawi merupakan salah satu tempat yang kita kunjungi jika kita ke Madinah. Sholat dan menghabiskan waktu beribadah di Masjid Nabawi merupakan aktivitas utama yang kita lakukan jika kita berkunjung ke sana.

Berziarah ke Masjid Nabawi bisa dilakukan kapan saja, jadi tidak waktu yang khusus. Berziarah ke Masjid ini tidak ada hubungan dengan manasik haji, namun bagi siapa yang berhaji maka sebaiknya menyempatkan waktu untuk ke masjid Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar mendapatkan keutamaan sholat disana. 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394).

Menjejakkan Kaki Pertama Kali di Masjid Nabawi 

Desember 2023 yang lalu merupakan pengalaman umrah saya yang pertama bersama keluarga. Dengan mendaratnya kami di  bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz International Madinah, maka perjalanan liburan religi kami pun dimulai. 

Setelah urusan ini dan itu kami pun bergegas menuju ke Bus. Tidak disarankan bagi  rombongan untuk menunggu lama-lama di ruang tunggu bandara apalagi secara bergerombol. Paling tidak itu yang disampaikan oleh orang-orang disana yang kami kira mereka mungkin agen bus (CMIIW). 

Setelah kami check in di hotel dan menyimpan koper-koper kami di kamar, selanjutnya kami pun berkumpul kembali untuk shalat di pelataran masjid dengan niat untuk menjamak’ shalat zuhur dengan ashar. Alhamdulillah hotel kami tidak jauh dari Masjid Nabawi, dari depan hotel saja kami bisa lihat payung-payung yang biasanya hanya saya lihat di sosial media saja. 

Jika saya bisa mereka wajah saya sore itu begitu kaki menjejakkan kaki di pelataran Masjid Nabawi, pasti mulut saya akan terlihat menganga. Masyaallah, saya masih tidak mengira bisa sampai di sana akhirnya dengan segala ujian yang kami hadapi. Mau nangis kok ya masih shock dan buru-buru juga mau sholat berjamaah bersama rombongan. 

Malam di Madinah

Kami pun masuk melalui gate 329 dan sholat berjamaah di pelataran. Kenapa dipelataran? Karena sudah masuk waktu ashar dan sholat jamaah sudah terlewat. Jadi tour guide dan Mutawif kami memutuskan untuk sholat di pelataran saja. 

Pertama Kali Sholat di Masjid Nabawi 

Selesai sholat, Mutawif kami menginformasikan jika kita, para akhwat hendak sholat di dalam masjid ada baiknya untuk masuk satu jam sebelum waktu sholat karena ruangan akhwat memang terbatas memang terbatas. 

Kami lebih dekat dengan gate 328 sehingga selalu masuk ke pintu masjid nomor 16-17. Jangan lupa bawa tas atau plastik untuk sepatu. Bisa dibawa masuk kedalam atau disimpan di rak sepatu yang ada di dalam masjid. 

Kebetulan bagian masjid yang terhampar sajadah sudah penuh. Kami tidak melihat ada celah kosong, meski sebenarnya bisa saja masuk ke dalam, biasanya ada kosong untuk 2 orang. Tapi kami memilih di lorong sebelah kanan. Masih meraba-raba posisi enak di dalam masjid. Jujur saja, saya lebih fokus ke anak-anak, karena tempat kami cukup terbatas jadi saya pastikan posisi duduk mereka enak. 

Suasana Sholat di Dalam Masjid Nabawi

Bertemu dari berbagai negara yang mungkin etika nya tidak sama seperti kita, jangan kaget jika ada diantara mereka yang lewat seenaknya di depan kita tanpa permisi. Jangan kaget juga jika kepala kita jadi tumpuan ketika mereka lewat. Untungnya anak-anak ga berubah mood nya, tetap menjadi observer. 

Kebetulan ketika awal berangkat saya minim informasi mengenai kebiasaan sholat di Masjid Nabawi. Termasuk ketika ada info tentang sholat jenazah, karena berbahasa arab saya belum sadar kalo itu merupakan ajakan untuk sholat jenazah. Sendirian, saya lanjut sholat sunnah  setelah sholat magrib. Padahal sholat jenazah diganjar pahala sebesar gunung uhud. 

Alhamdulillah untuk sholat-sholat berikutnya saya menunggu informasi dulu dari Imam, jika ada sholat jenazah saya tunggu dulu jika tidak ada saya bisa langsung sholat sunah. Biasanya informasinya hanya beberapa detik setelah salam. 

Menanti Syuruq Di Nabawi  

Saya benar-benar mengatur jam tidur anak-anak supaya mereka punya cukup waktu untuk istirahat. Biasanya ketika berangkat dini hari ke masjid saya tidak pernah membangunkan mereka. Alhamdulillah ada Kaka yang sudah besar jadi cukup bisa diandalkan, dan memohon perlindungan kepada Allah Azza Wa Jalla. 

Biasanya ketika adzan subuh mereka sudah bangun, kemudian sholat dan bersiap-siap ke Masjid. Mereka akan menunggu saya di depan hotel untuk saya jemput ke Masjid (untung jaraknya masih dekat). Jadi kita bisa sama-sama menunggu waktu syuruq sekaligus menunggu momen ketika kubah masjid terbuka.  

Momen ini biasanya Shanum suka sekali mengisi botol minum dengan air zam-zam. Dia bisa duduk antri dan mengisi tidak hanya satu bahkan hingga tiga botol. Sambil melihat beberapa orang yang sedang kajian, murojaah dan tahsin bersama kelompok masing-masing. Masyaallah rasanya damai sekali. 

Menikmati Pagi di dalam Nabawi

Menikmati Matahari Terbenam di Pelataran

Jika pergi bersama anak-anak memang penting banget mengganti lokasi solat supaya bisa menikmati suasana. Alhamdulillah pelataran bisa jadi tempat yang menyenangkan juga buat anak-anak. Mereka bisa berlari sambil menunggu waktu sholat dengan catatan belum penuh dengan jamaah yang akan bersiap untuk sholat. 

Jika tidak hujan, biasanya payung-payung di pelataran akan terlipat menjelang jam 5. Duduk santai di pelataran sambil menunggu waktu sholat bisa menjadi stress release banget. Menikmati langit yang perlahan berubah kemerahan tanda matahari terbenam. Angin pun akan berhembus mengantarkan hawa dingin. Kebetulan kami pergi umrah itu di Bulan Desember, jadi udara Madinah sejuk sekali. Mirip-mirip udara Lembang. 

Matahari Terbenam di Madinah

Mengamati orang dari segala penjuru dunia ternyata seru juga. Jika beruntung kita bisa sambil ngobrol sedikit-sedikit dengan mereka. Maksudnya beruntung adalah bisa bahasa inggris dan bahasa isyarat sedikit-sedikit, hehehe. Oh iya, disana banyak sekali orang bersedekah, sekedar membagikan kurma, permen, roti atau cemilannya lainnya. Allahumma barik laka. Pokoknya rasanya damai gitu. 

Suasana Pelataran Masjid Nabawi waktu Magrib

Dari pengalaman umrah kemarin saya langsung jatuh cinta dengan Madinah dan Masjid Nabawi. Sampai berani bermimpi dan berharap semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan rezeki untuk bisa menghabiskan bulan Ramadhan disana. Aamiin. 

Sambil menulis ini saya sambil membayangkan kembali kenangan-kenangan itu. Masyaallah tabarakallah. Semoga bisa terulang, tolong aminkan ya teman-teman. 

Sumber:

https://rumaysho.com/

signature-desy