Be Smart Mom With Naqiyyah Syam

Naqiyyah Syam

Ibu adalah inspirasi bagi anak-anaknya. Menjadi Ibu adalah cahaya bagi keluarganya. 

Kalimat itu yang menarik perhatian saya ketika berkunjung ke blog milik seorang perempuan bernama Naqiyyah Syam. Naqiyyah Syam bukanlah nama sebenarnya, melainkan nama pena. Tapi justru nama pena itulah yang melambungkan namanya sebagai penulis. Naqiyyah berarti bersih, dan jernih, diharapkan melalui tulisan-tulisannya bisa memberikan penjelasan yang bebas dan jernih tentang suatu hal, sedangkan Syam adalah nama ayahnya yaitu Syamsil Sanoer.

Naqiyyah Syam
Menulis merupakan hobinya sejak Sekolah Dasar. Ketika duduk di bangku SMP beliau baru mulai berani mengikuti lomba menulis disekolah. Kurangnya pengarahan dari yang ahli dan berpengalaman, membuat beliau kurang memiliki kepercayaan diri untuk bisa mengikuti banyak lomba kala itu, namun lambat laun ketika kuliah dan aktif di FLP, beliau mulai mengepakkan sayap dan mengembangkan keahlian menulisnya. Mulai dari menjadi wartawan di Warta Unisba, bertanggungjawab pada kolom Sastra dan Budaya di koran Rakyat Bengkulu, antologi cerpen dan masih banyak tulisan lainnya di majalah dan buku islami. Hingga kini menulis merupakan bagian dari hidupnya.

Kalau sudah passion mau bagaimana pun, sulit untuk dihilangkan. Itulah kenapa Mba Naqi masih giat menulis sampai dengan sekarang bahkan merambah ke dunia blogging. Awalnya, menulis blog karena ingin mengikuti lomba saja. Lama kelamaan blog pun berhasil membuat beliau jatuh hati. Blog menjadi tempat beliau menitipkan ide-ide yang terkadang muncul namun belum sempat dituangkan dalam tulisan yang kelak bisa dikembangkan lagi menjadi suatu karya. Maklum saja, Mba Naqi adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak memiliki asisten rumah tangga, jadi semua dilakukan sendiri. Memiliki waktu menulis yang agak panjang dengan kondisinya yang sekarang memiliki anak balita rasanya sangat langka. Blog lah yang kemudian menjadi penyelamat beliau dalam menyelamatkan ide yang muncul tak kenal waktu itu.

Hal yang paling dihindari oleh Mba Naqi adalah menulis dalam keadaan emosi. Kenapa? Karena bisa membuat tulisan yang dihasilkan menjadi kurang enak dibaca bahkan bisa saja membuat pembaca menjadi tersinggung. Dan menjadikan arti dan maksud dari tulisan itu tidak tersampaikan dengan jelas dan jernih. Beliau juga menghindari menulis yang menyudutkan seseorang atau instansi tertentu. Jadi lebih baik pilih yang aman namun banyak manfaatnya, begitu ya kan Mba??

Naqiyyah Syam

Blog Mba Naqi di www.naqiyyahsyam.com lebih fokus membahas tentang Parenting, MPASI dan Smart Mom. Tujuannya sih simple,  ingin mendokumentasikan segala kegiatannya sebagai Istri dan Ibu dari anak-anak nya. Jadi, ketika anak-anak besar nanti dan membaca blog beliau seperti mengulang kembali moment penting dalam kehidupan melalui tulisan beliau. Kalau yang ini sama dengan saya, menulis blog pun tujuannya agar menjadi kenang-kenangan untuk anak-anak kelak.

Tetapi yang menarik bagi saya adalah tagline “Smart Mom” yang diangkat oleh Mba Naqi. Sebagai seorang Ibu, saya pun sepemahaman dengan beliau kalau seorang ibu haruslah pintar. Menjadi lebih pintar dari apapun rasanya suatu keharusan di era sekarang ini. Tidak hanya pintar teori tapi juga analisa, logika, ilmu agama, keduniawian, pokoknya semua deh. Saya setuju dengan niche blog nya itu, semacam penyemangat bagi ibu-ibu lain.

Smart Mom menurut Mba Naqi adalah sosok ibu yang dapat aktif mengembangkan potensi dirinya tanpa mengabaikan pendidikan untuk anak dan keluarganya. Smart Mom adalah Ibu yang cerdas memilih beberapa kondisi yang dianggap prioritas. Tidak harus sih mengerjakannya semua sendiri secara sempurna, paling tidak melakukan yang terbaik.

Menjadi Smart Mom bukan berarti tidak pernah gagal akan sesuatu. Bahkan Mba Naqi pun pernah gagal. Tetapi bukan pada kegagalan itu poin pentingnya, namun bagaimana kita belajar dari kegagalan dan bangkit sehingga penyebab kegagalan itu tidak lagi dilakukan dikemudian hari. Oleh sebab itu beliau ceritakan di blog nya supaya kelak menjadi pengingat bagi beliau dan pembelajaran bagi orang lain.

Multi tasking itu yang kemudian saya tagkap dari kisah-kisah yang saya baca di blognya Mba Naqi. Menikah bukanlah akhir dari pengembangan diri kita sebagai manusia. Semua hal yang ingin kita lakukan dan untuk kepentingan diri kita sendiri bisa saja kita capai atas ridho suami kita. Selama bisa dikomunikasikan pasti impian-impian itu bisa tercapai dan tentu saja seperti ya Mba Naqi bilang dengan tidak mengabaikan kepentingan keluarga. Semangat ya Mba, menularkan spirit smart mom ini, agar makin banyak perempuan yang sadar bahwa menjadi ibu yang pintar itu perlu.

“Al Ummu Madrasah Al-Ulaa”

Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. 



signature-desy

You may also like

17 Comments

  1. Saya setuju dengan pernyataan Ibu Naqiyyah yang ini "Karena bisa membuat tulisan yang dihasilkan menjadi kurang enak dibaca bahkan bisa saja membuat pembaca menjadi tersinggung", saya pun begitu mbak hehehe.

    Terima kasih atas artikel yang insfiratif ini mbak Desy
    Salam
    Mugianto

  2. Membaca ulasan Mbak Desy tentang Mbak Naqy, saya dapat gambaran bahwa Mbak Naqy itu ibu multi tasking banget. Hebat ya. Ibu masa kini memang begitu. Menyalurkan hobbi tapi tetap keluarga nomor satu 🙂

  3. mampir ke sini jadi kenal Mbak Naqi deh… salam kenal ya mbak. Semoga ilmu dan tulisan tentang family dan parentingnya bermanfaat. keep writing and keep inspiring. Dessy juga yaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *